Catatan Jurnalis Indonesia Tarawih Pertama di Gaza, Selimuti Suka Duka dan Linangan

Catatan Jurnalis Indonesia Tarawih Pertama di Gaza, Selimuti Suka Duka dan Linangan

0 62

ALHIKMAHCO,– Sudah lebih dari 10 Tahun Gaza masih di bawah blokade Israel, menyebabkan kesengsaraan dan penderitaan seakan menjadi warisan turun temurun generasi Palestina.

Pintu perlintasan darat antara Gaza dan Mesir menjadi satu-satunya alternatif bagi warga Gaza untuk bertahan hidup dan mendapatkan bahan pokok lainnya, kini menjadi bumerang bak buah simalakama alias buka tidak tutup pun tidak, walau memang awal bulan puasa sempat dibuka oleh pemerintah Mesir, angin segar bagi warga Gaza.

Masih terekam di memori kita akhir tahun 2014 agresi Israel atas Gaza memporak-porandakan sistem perekonomian, tak kurang dari 2,700 orang warga sipil gugur dan lebih dari 11,000 mengalami luka hingga korban cacat seumur hidup, walau perang tersebut sudah berlansugsung berapa tahun lalu tapi luka dan duka masih terasa dari para keluarga korban.

Pucak pilu, rindu dan duka dengan tibanya bulan Suci Ramadhan menjadi momen yang selalu dinantikan oleh kaum Muslimin di penjara jagat, senang pasti dirasakan oleh setiap kita yang diber umur panjang untuk menjalankan ibadah Puasa, duka dan rindu pasti dialami oleh mereka yang tidak sempat jumpa dengan sanak saudara di bulan suci nan berkah.

Lain halnya dengan muslimin Palestina khususnya di Jalur Gaza, tidak sedikit dari warga Gaza telah kehilangan sanak saudara saat agresi Israel atas Gaza diakhir tahun 2014, kini tiba bulan suci Ramadhan.

Abdillah Onim 1 dari 3 orang WNI yang kini berada di Jalur Gaza, sejak 2009 menapakkan kaki di bumi berkah harum dengan semangat juang pejuang Palestina, sudah tujuh kali jalani nuansa Ramadhan di Gaza Palestina, awalnya berat jalani Ramadhan di Palestina karena jauh dari ayah ibu dan sanak saudara di kampong nun jauh dimata, yakin dekat di hati yaitu dengan doa.

Sore hari saya bersama anak istri keluar rumah untuk melaksanakan sholat Magrib diwilayah Deir Balah Gaza tengah, kami lanjutkan safar menuju Gaza City dengan harapan dapat berada di saf depan baik Sholat Isya maupun sholat Tarawih, sayangnya tidak kebagian saf depan karena begitu membludaknya jamaah mengejar shaf depan awal Tarawih di Masjid terindah, kuat, megah ya Masjid Abdul Azis Al-Khaldy terletak di pantai Barat mediterania Palestina.

Shaf paling belakang, teras sudut Barat Pantai Mediterania Palestina kami gelar sajadah untuk Shalat Tarawih, padahal kami sudah keluar rumah sebelum shalat Magrib.

Lantunan Alqur’an begitu merdu dari sang Imam, angin dan suara ombak Pantai Mediterania Palestina seakan hanyut dengan lantunan Alqur’an, Indah dan lama mengakhiri 2 rakaat masing-masing Sholat tarawih.

Di Gaza Palestina Sholat Tarawih adalah 11 Rakaat termasuk 3 rakaat shalat witir, masing-masing shalat Tarawih yaitu 2 rakaat, 3 rakaat shalat witir dan diakhir dengan doa Qunut, akan tetapi ada juga beberapa Masjid yang tidak ada doa Qunut, tidak menjadi bahan perdebatan.

Pertama doa Qunut terlama yang pernah saya alami di Gaza yaitu lebih dari 10 menit, selama 10 menit itu air mata para jamaah tak pernah kering termasuk saya Abdillah Onim, mengangkat tangan bersimpuh harap tak daya dihadapan Allah SWT, malu dan penuh dosa saat mengaminkan doa witir diringin linangan air mata yang sangat, suara tangis pecah diantara lantunan doa mendoakan para Syuhada, mendoakan Masjid Alaqsa dan Palestina.

Berapa tahun sebelumnya mereka masih bersama anak, istri keluarga dan sanak saudara akan tetapi kini tak tampak lagi senyuman dan canda ria dikala Ramadhan tiba, sudah nasib mereka lebih dulu meninggalkan dunia ini yaitu di terpa roket dan bom kaum Yahudi. (pn/Alhikmah/Suarapalestina)