Apa Kabar Suriah di Musim Dingin?

Apa Kabar Suriah di Musim Dingin?

Seorang anak di pengungsian perbatasan Suriah-Turki (mediaroad4peace)

Dalam keadaan suhu minus 4 -2 derajat celcius, bocah-bocah mungil itu datang tanpa kaus kaki, tanpa sepatu, tanpa selembarpun alas kaki.

“Bagaimana kabar Suriah saat musim dingin ini?” tanya saya  pada seorang kawan yang merupakan pegiat kemanusiaan, relawan salah satu NGO terbesar di Turki, IHH. Saat itu, kami sedang berada di kota Bursa Turki, dengan salju yang masih merintik, gerimis, mengguyur setiap jengkal kota tua itu.

Kawan  saya yang orang Turki itu hanya tersenyum getir. Mungkin dia tahu kalau ini adalah pertanyaan retoris. Pelbagai media sudah memberitakan kabar musim dingin di Suriah.

UNHCR sudah merilis secara resmi, bahwa ada sekitar jutaan warga Suriah yang belum siap menghadapi musim dingin. “For many Syrians, this will be their 5th winter in exile as the war gripping their country digs deeper. Today, refugees are now more vulnerable than ever: their savings long gone, jewellery and other valuables sold off, and increasing numbers in debt to cover basic needs,” kata UNHCR dalam rilisnya.

Ada tiga juta orang kehilangan atap rumahnya. Tak tahu lagi di mana harus berlindung. Belum lagi, menurut UNHCR ancaman badai salju yang siap terjadi kapanpun. “In Lebanon’s Bekaa valley, temperatures fell to -15 degrees centigrade while refugees were shovelling up to 50 cm of snow off.”

Setidaknya, menurut UNHCR ada 236 juta dollar yang dibutuhkan untuk membantu 2,5 juta pengungsi. Belum lagi laman  Theguardian menyebutkan gelombang pengungsi di Eropa menimbulkan masalah baru saat musim dingin. Hal ini mungkin mimpi buruk bagi banyak pihak.

Kabar musim dingin mungkin benar-benar buruk. Sambil melihat ke jendela luar sana, salju masih masih malu-malu turun. Angin musim dingin Bursa yang dari tadi mengetuk-ngetuk jendela membuat kami merapatkan jaket yang tebal ini. “Apakah mereka bisa melewati musim dingin selama perang berkecamuk?” Tanya saya.

Pasalnya, saat turun dari bus, saya sempat melihat termometer menunjukkan angka minus 10 derajat Celcius. Tak terbayang bagaimana orang Suriah menghadapi musim dingin di pengungsian.

Usai melihat termometer di bus, segera kami lari-lari kecil, masuk ke markas IHH Bursa. Ruangan kantor NGO terbesar di Turki ini sungguh sederhana. Dari ruang mungil ini, aksi-aksi kemanusiaan dirancang.

“Nanti kita akan lihat sendiri. Mungkin kita akan tercengang,” katanya aktivis IHH tersebut menjawab kabar Suriah di musim dingin. “Tercengang kenapa?” guman hati ini. Malam itu, jawabannya menggelayut dalam pikiran saya. Di malam itu juga, kami diajak berjalan-jalan singkat ke salah satu sudut kota Bursa.

Di puncak sebuah bukit, pemandangan kota Bursa terlihat dramatis. Butiran salju bak kapas turun perlahan, bergoyang ditemani angin musim dingin yang sangat membuat kuduk bergidik. Pakaian berlapis-lapis tak dapat menahan dinginnya yang menusuk-nusuk kulit.

Sakin dinginnya, kupluk pun dirapatkan hingga menutup kedua telinga. Bibir hingga leher berbalut syal. Sambil memandang pemandangan indah Bursa di malam hari, di samping Clock Tower. Gemerlap bursa bak untaian mutiar mengular hingga ke penghujung ufuk sana di Laut Marmara.

“Di ujung sana ialah Konstantinopel,” tunjuk kawan saya asal Turki, Hasan. “Dan dari tempat kita berdiri inilah, cita-cita itu diwujudkan oleh Al Fatih,” kata kawan saya. Saya masih kurang paham apa maksudnya. Menengok sekitar, melihat bekas-bekas meriam, kontur perbentengan, hingga menara yang menjulang, rupanya saya mulai paham.

“Di Bursa sinilah berdiri Daulah Turki Utsmani, dan di sinilah ibu kotanya,” tambahnya. “Dan di sana lah, kelak akan menjadi Ibu Kota Turki Utsmani setelah dibebaskan,” tambahnya.

Gemerlap bursa di malam hari semakin memikat. Tumpukan salju di atap-atapnya membuat seperti gundukan putih tersiram cahaya remang malam. Cerobong-cerobong asap masih menyembul. Kota tua ini masih dijaga. Nampak di ujug gemerlap saja, Laut Marmara, dan lebih jauh lagi, negeri impian: Konstantinopel.

“Dan di belakang punggung kita sekarang Suriah,” tambah Hasan. “Dari negeri Syam, kota ini terbebas,” kenangnya. Suriah, memiliki makna besar bagi penduduk Turki di masa silam. Dari Suriahlah, pembebasan negeri-negeri timur dan utara dimulai.

Dan kini, apa kabar Suriah di musim dingin? “Suriah tak sendiri,” kata Hasan. Masih ada Turki di sana. Inilah mungkin maksudnya,” kita akan tercengang,” kata Hasan. Beberapa hari kemudian, Qadarallah saya bisa melihat langsung bagaimana kabar Suriah di musim dingin?QLB_2387

Kita akan menepi sejenak ke salah satu sudut pengungsian di Hatai. Bata-bata itu kini berdiri seadanya. Cerobong penghangat itu menembus atapnya yang tersusun dari bata. Di dalam ruangan mungil itu, hidup satu keluarga.  Tak ada TV, tak ada ayah, tak ada jeket tebal, tak ada kaus kaki, tak ada perabot. Hanya tikar yang digulung. Begitu sederhana, atau bisa dibilang memilukan.

Suasana dalam pengungsian semi permanen (mediaroad4peace)
Suasana dalam pengungsian semi permanen (mediaroad4peace)

Seperti itulah musim dingin pengungsi Suriah di Hatai. Jemuran digantung antar tiang. Sisa-sisa es mencair masih bergerombol becek. Mereka memang masih kekurangan, namun senyum masih tersimpul lebar dari para bocah mungilnya.

QLB_2440

Dengan kaos oblong, tanpa alas kaki, tanpa kaus kaki, tanpa jaket di halaman yang beratap langit, mereka nampak gembira. Saling mengejek, saling memijat, hilir mudik di tengah hawa dingin yang menusuk kulit.

“Masih ada optimisme,” kata seorang warga Turki. Lihat saja, ketika merek bersekolah dengan baju hangat kiriman warga Turki, gigi-gigi kelinci itu Nampak. Senyum tersungging begitu gembira. Pipi –pipi merah bulat, dengan serius belajar dan mewarnai dengan crayon. Anak-anak Turki berbaur dengan mereka.

QLB_2444

Gambar-gambar akan impian Suriah yang damai. Walau sebagian menjadi yatim hingga piatu, impian tak kan pernah dimatikan. Berkali-kali rezim Assad menghancurkan sekolah-sekolah di Suriah, impian para anak-anak ini takkan padam.

Kita menjauh sejenak dari tepian. Kita masuk ke jantung kota Aleppo, di garis depan peperangan. Mungkin, dengan membom sekolah-sekolah, impian itu akan sirna. Namun, impian akan terus berkobar. Musim dingin Suriah di tengah kepungan bom tak menyurutkan para pelajar menuntut ilmu.

Madrasah Imam Ahmad bin Hanbal
Madrasah Imam Ahmad bin Hanbal

Kita simak gadis kecil bernama Hamidah, di tengah reruntuhan Aleppo. “Orang tuanya dibom rezim,” kata Fatma, seorang pengajar Madrasah Imam Ahmad Bin Hanbal.

“Sekolah di Aleppo hampir semua sekarang libur karena sekolah telah menjadi target pemboman tentara Bashar Assad,” kata guru lainnya menimpali. Madrasah Imam Ahmad memang kini telah menjadi puing sebagian besarnya.

Ruangan kosong melompong. Buku berserakan. “Tujuh belas anak-anak wafat saat sedang belajar,” kata seorang warga. Musim dingin di Suriah memang berbeda dengan di Indonesia.

Ketika bocah-bocah di Indonesia sedang riang-riangnya bermain, di Suriah, mereka dijadikan target penyerangan. Namun, siapa kira, impian para anak ini semakin berkobar di musim dingin.

Hamidah
Hamidah

Hamidah, sebelum bom Rezim merenggut orang tuanya hampir saja menyelesaikan pendidikan dasarnya. Namun, sekolah yang disangka aman, rupanya menjadi sasaran juga. Madrasah Imam Ahmad pun diliburkan. Namun, bukan berarti proses belajar libur.

“Doakan semoga Ibu saya ditempatkan di Surga,” kata Hamidah matanya berkaca-kaca. “Saya ingin sekolah lagi,” kenangnya.

“Anak-anak di sini kalau mau sekolah mereka butuh kaus kaki tebal,” kata sang Guru Fatma menambahkan. Saat itu, tak nampak kaus kaki yang melekat di kaki Hamidah.

Kelas kosong
Kelas kosong

“Di kelas mereka kedinginan, bahkan ada yang tak punya sepatu. Namun yang membuat haru, mereka tetap semangat untuk terus belajar,” ungkap Fatma, lirih. Dalam keadaan suhu minus 4 -2 derajat celcius, bocah-bocah mungil itu datang tanpa kaus kaki, tanpa sepatu, tanpa selembar pun alas kaki.

Seorang sahabat kami lantas memberikan syal untuk Hamidah. Ia mendoakan agar kelak Hamidah menjadi siswi yang berprestasi. Tak terasa mata ini berkaca-kaca.

Seorang sahabat menyeka air matanya yang sudah mengaliri pipi. Saat kami menggunakan jaket super tebal, lihatlah bagaimana Hamidah hanya menggunakan baju biasa, tanpa earmuft, tanpa kupluk, tanpa syal, tanpa kaus kaki, atau sepatu waterproof kami.

Hamidah hanya ingin belajar kembali, mereguk manisnya Al Quran. Ia ikhlaskan orang tuanya, semoga berjumpa di Surga kelak.

“Apa Kabar Suriah di Musim Dingin?”

Mungkin bukan mereka yang perlu kita cemaskan. Selama impian itu tak padam, maka selalu ada harapan. Musim dingi bagaimanapun akan berakhir. Musim semi siap menyongsong. Semerbak wanginya sudah tercium. Bukn

Pertanyaan yang mungkin kita tanyakan sekarang,”Apa Kabar Kita Saat Suriah Musim Dingin?”

“Apa yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan impian dan harapan anak-anak Suriah?”

Sederhana. Tapi bermakna bagi mereka. Bahwa impian tak kan pernah bisa dipadamkan.

Oleh:  Rizki Lesus (jurnalis, pernah meliput ke Suriah)