Merenung untuk Perubahan

Merenung untuk Perubahan

0 439
ggle

Mengenang itu belajar. Bukan belaka beromantika, larut dalam euforia kejayaan masa silam. Terlebih bersedu sedan mengingat pedihnya perjuangan para perintis jalan.Tapi  merenung untuk sebuah perubahan, tak berarti melarang air mata jatuh berlinang. Luapan ekspresi cinta, kerinduan yang membuncah akan kehadirannya, teladan terbaik umat sampai akhir hayat. Tentu bukan fisik, tapi warisan teramat berharga bagi generasi-generasi setelahnya. Selama tak berhenti di situ, seperti terdera amnesia sejarah.

Mengenang itu belajar. Bagaimana Pemimpin besar revolusi Islam, Rasulullah SAW selalu memupuk empati terhadap umatnya. Ia berlaku bak pelayan, selalu ingin memberikan yang terbaik. Ia bersikap bak pengayom, tak pernah sudi membebani.

Satu waktu ketika memimpin shalat berjama’ah, sahabat melihat ada yang janggal dari pergerakan Rasulullah dari satu rukun ke rukun yang  lain. Gerakannya sedikit melambat, seperti menahan sakit. Terdengar bunyi gemeretak, seolah sendi-sendi di tubuh pemimpin penuh kharisma itu bergeser.

Tak tahan melihat keadaan junjungannya itu, usai shalat Sahabat Umar ra   langsung bertanya. ‘Yaa Rasulullah, kami melihat tampaknya engkau seperti menahan derita yang amat berat. Sakitkah engkau ya Rasulullah?”

“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat wal ‘afiat.”

“Mengapa setiap kali engkau menggerakkan tubuh, kami dengar gemeretak suara pada sendi-sendi tulangmu? Kami yakin pasti engkau sedang sakit…” Umar mendesak, penuh cemas.

Demi melihat kecemasan para sahabat di sekelilingnya, akhirnya Rasul mengalah. Ia angkat kemudian jubahnya. Dan pemandangan memilukan pun tampak menyayat rasa. Sekedar menahan lapar, sehelai kain berisi batu kerikil, terlihat melilit perut beliau yang kempis. Kerikil-kerikil itulah sumber bunyi gemeretak, saban kali tubuhnya bergerak.

Betapa terkejutnya para sahabat menyaksikan Pemimpin besarnya itu.

“Ya Rasulullah! Apakah saat engkau menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kemudian kami tidak akan mengusahakannya buat engkau?’

Dengan lembut Rasul menjawab, “Tidak sahabat- sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apa yang akan aku jawab di hadapan Allah nanti, apabila sebagai pemimpin, menjadi beban bagi umatnya? Biarlah kelaparan ini
sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini, terlebih di Akhirat nanti.”

Mengenang itu belajar. Bukan belaka beromantika, larut dalam euforia kejayaan masa silam. Terlebih bersedu sedan mengingat pedihnya perjuangan para perintis jalan.Tapi  merenung untuk sebuah perubahan, tak berarti melarang air mata  jatuh berlinang.

Komentar ditutup.