Sosok Ayah Penentu Arah

Sosok Ayah Penentu Arah

0 3453

 

“… Imam Syafii yang tidak punya ayah dari kecil dititipkan pada Imam Waqi. Itulah tradisi keayahan dalam Islam, mencari perwakilan simultan. Karenanya, ayah jika dirasa sibuk dan sulit bertemu anak, harus mencari perwakilan, karena sosok ayah mutlak untuk hadir dan berinteraksi dengan anak…”

ALHIKMAH.CO–Jika ibu adalah madrasah pertama anak, maka ayah adalah kepala madrasahnya. Begitulah yang disampaikan Penggagas Majelis Ayah Ibu (MAI)  yang juga pendiri Komunitas Sahabat Ayah, ustadz Bendri Jaysurrahman kepada Alhikmah beberapa waktu lalu. Baginya, ayah merupakan peran sentral dalam keluarga untuk mewujudkan tujuan pendidikan dalam Islam yaitu hamba Allah yang shalih.

Wartawan Alhikmah, Muhri,  berkesempatan berbincang dengan beliau ihwal pendidikan anak dalam Islam, khususnya peran ayah dalam pengasuhan anak. Apa tujuan pendidikan dalam Islam? Seperti apa peran ayah? Sepenting apa?  Bagaimana metode ayah mendidik anak? Bagaimana jika sang ayah sangat sibuk? Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana Al Quran memandang peran ayah dalam Mendidik Anak?

Justru urusan mengurus anak bagian yang tidak bisa lepas dari ayah. Al Quran dalam surat At Tahrim memerintahkan Kuu Anfusakum Wa Ahlikum Naar,  jagalah dirimu dan keluargamu agar tidak masuk neraka. Siapa di seru di sana? Siapa yang bertanggung jawab?

Jawabannya Ayah! Karena ayat ini dhamirnya Kum, artinya laki-laki ke dua. Kalau perempuan pakai kunna . Jadi, ayah yang ditegur, jagalah dirimu dan anak dari api neraka.

Bisa berikan contohnya dalam al Quran?

Saya baca kitab Hiwarul Aba’ma’al Abna fiil quranil kariim wa tathbiqotuhut tarbawiyah kitab tentang dialog orang tua dan anak. Dalam penelitian kitab tersebut, ada 17 dialog pengasuhan dalam Al Quran, dan 14 dialong adalah dialog ayah-anak: Yaqub – Yusuf, Luqman, dll, itu dari sisi Quran spiritnya.

Ibnul Qayyim Al Jauziyah menulis kitab Tuhfatul Maudud Biahkamil Maulud,  kitab yang ditulis sebagai hadiah untuk anaknya, yang menguraikan  kalimat pentingnya peran ayah: Kalau diamati kerusakan pada anak, penyebab utamanya itu ayah. Para ulama menyimpulkan, karena nasab anak pada ayah, dan fungsinya fungsi pertanggung jawaban yang kelak akan ditanyai di akherat.

Seberapa penting peran ayah terhadap anak? Bukankah ada pepatah justru ibu adalah madrasah anak?

Ini yang harus diluruskan, ungkapan al ummu madrasatul ula, masih belum lengkap. Ada tambahannya wal abu mudiruha, roisuha. Jadi, ayah adalah kepala sekolahnya. Jika ibu sebagai madrasah dan guru, ayah adalah kepala sekolahnya. Ini yang kebanyakan tidak dimiliki ayah sekarang.

Ayah hanya memberi makan, memberi hadiah, pakaian, dirasa itu cukup. Bahkan, ada yang hanya berkutat pada urusan genteng bocor, keran hilang. Kalau yang seperti itu bukan ayah kepala sekolah, tapi ayah marbot penjaga sekolah. Kepala sekolah visinya lebih tinggi sekadar itu. Sejatinya fungsi utama ayah kepala sekolah yang baik.

Seorang ayah belum layak disebut ayah jika hanya punya anak tanpa ia menjalankan fungsi keayahan. Sidney Haris bilang, seorang punya piano, belum layak disebut pianis. Jadi, walau punya anak, belum disebut ayah kalau dia bukan pengasuh. Tapi bagaimana ada fungsi  fathering, fungsi penjalanan peran.

Maka ayah menjalankan fungsi perannya bagaimana menunjukkan nilai-nilai keayahan kepada anaknya. Membawa anaknya dambaan agama, hamba Allah yang shalih. Sejauh mana peran ayah mengarahkan agar anak menjadi hamba Allah yang shalih.

Dalam Islam, seperti apa fungsi ayah?

Pertama, fungsi pemenuhan hak anak.  Dalam Islam, ketika hak tidak diberikan, ibarat utang piutang, kalau tidak masa kecil, saat remaja ia akan menagihnya. Maka, bagaimana ingin menjadi ayah yang baik, jika hak anak saja tidak tahu. Maka, pertama kali ialah ketahui hak anak. Apa itu?

Seperti dikisahkan ketika orang tua mengadu kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab bahwa anaknya durhaka ketika beranjak dewasa. Sebelum dihukum, sang Anak bertanya kepada Umar, adakah hak anak? Umar menjawab bahwa hak anak ada tiga yaitu  mendapatkan ibu yang baik, nama yang baik, pengajaran Quran dan adab yang baik. Lalu, sang anak protes, karena ia tak pernah merasa mendapat ketiganya.

“Bapak saya menikahi negro beragama majusi, nama saya jua’l  (lelaki item pendek)- dalam riwayat lain julan yang berarti kumbang. Saya tidak diajarkan Quran, adab juga,” adu sang Anak kepada Umar. Maka kita tahu ungkapan umar yang sangat terkenal kepada ayah si anak.

“Kamu sudah durhaka dulu sebelum anakmu mendurhakaimu. Dan kamu sudah merugikan anakmu sebelum anakmu merugikanmu,” kata Umar. Sejatinya kalau ada ada anak durhaka, adajuga ‘ortu durhaka’.

Karenanya, untuk memenuhi hak anak, bahkan dalam Islam dilakukan jauh-jauh hari sebelum menikah, yaitu memilih pasangan yang baik. Rasulullah memberikan 4 kriteria.

Seperti apa peran ayah jika seperti fenomena sekarang, sang Ayah sibuk bekerja dan jarang bertemu anaknya?

Zaman tabiin, ada beberapa kisah ayah yang bahkan hanya pulang setahun sekali atau meninggalkan istri sangat lama. Faruq, seorang mujahid meninggalkan anaknya 30.000 dinar untuk keluarganya. Lalu darimana sang anak belajar fungsi keayahan?

Ternyata sang istrilah yang menjadi sarana anak belajar, menceritakan kebaikan ayah. Jika ayahnya baik, istri akan menceritakan kebaikan kepada anak kita, istri menjadi agen ‘MLM’ kita. Seperti kisah Ibrahim yang hanya pulang setahun sekali, tapi Hajar sama sekali tidak pernah bercerita negatif kepada Ismail.

Disinilah fungsi keayahan saat kita jarang bertemu anak, ialah mencegah istri kita sebagai orang pertama menceritakan keburukan pada anak. Menjadi ayah yang baik mau tidak mau adalah menjadi suami yang baik. Maka, ayah-ayah terdahulu yang jarang pulang, mendidik anak lewat fungsi ini. Bagaimana meninggalkan jejak yang anak akan tiru tentang ayahnya lewat pasangan kita.

Sesibuk-sibuknya ayah, apa dia harus bertemu dengan anak? Bagaimana jika kondisi sangat sibuk sekali?

Kehadiran sosok ayah adalah mutlak. Ada ayah persepsi dan ayah simultan. Ayah persepsi seperti yang saya jelaskan, persepsi anak baik jika ibu dan orang terdekatnya menceritakan kebaikan kita. Kedua, ialah ayah simultan, bahwa anak harus diajarkan tentang bagamana menjadi laki-laki atau perempuan yang baik dari sifat ayah.

Sosok ketegasan, nilai-nilai keayahan dan sebagainya akan didapat dari sosok ayah yang hadir, tidak bisa diwakilkan ibu. Maka, para ulama terdahulu seandainya ayahnya sibuk, atau jarang bertemu anaknya, tetap harus ada sosok ini. Salah satunya bisa dengan dididik oleh guru, atau sosok yang mewakili ayah simultan.

Umar bin Abdul Aziz dititipkan belajar pada Syaikh As Shalih karena ayahnya Abdul Aziz bin Marwan sangat sibuk. Seperti juga Sultan Muhammad Al Fatih dititipkan pada gurunya seperti Syaih Aaq Syamsuddin. Begitupun dengan Imam Syafii yang tidak punya ayah dari kecil dititipkan pada Imam Waqi.

Itulah tradisi keayahan dalam Islam, mencari perwakilan simultan. Karenanya, ayah jika dirasa sulit bertemu anak, harus mencari perwakilan, karena sosok ayah mutlak untuk hadir dan berinteraksi dengan anak.

Lebih jelas kita lihat Rasululah yang ayahnya wafat, kita lihat saking butuhnya sosok simultan, kakeknya menjadi sosok ayahnya. Kemudian dilanjutkan pamannya Abu Thalib, padahal ia orang kafir. Itu pentingnya, karena nilai keayahan, dan jangan sampai anak kita tidak dapat mendapatkan figur ayah.

Apa yang diharapkan dengan kehadiran figur ayah tersebut?

Kita lihat misal ketika Maryam lahir, Imran telah meninggal. Maka, sosok paman Maryam, Nabi Zakariya menjadi figur ayahnya. Dari ayah, wanita belajar ketegasan, tidak mudah dipengaruhi pria, dirayu seperti fenomena perempuan zaman sekarang.

Maryam ketika hamil ia sedih. Dalam surat Maryam 42 disebutkan bagaimana Maryam bisa hamil, bahkan ia tidak pernah disentuh seorang lelaki pun. Inilah bahwa ketegasan diajarkan kepada Maryam. Konteknsya sekarang, anak perempuan memerlukan figur ayah yang dekat dengannya agar tetap tegas.

Bagaimana metode ayah mendidik anak? Adakah fase-fasenya?

Realnya, ada tiga fase, seperi anak-anak 0- 7 tahun, tamyiz 7 -14, dan lewat dari 14 tahun atau fase pemuda. Dalam tahapan anak-anak, seperti dijelaskan dalam Quran, bahwa organ yang aktif ialah sama (pendengaran), bashar (pengelihatan), dan fuad (hati). Maka aktifkan organ ini pada anak lewat berkata baik, ekspresi wajah dan berusaha menyentuh hati anak.

Ekspresi anak harus direkam oleh anak dan ini akan membuat ikatan batin. Saat ini, akal belum terlalu berperan. Maka banyaklah membelai, mengadu muka, beradu lidah sebagaimana Rasulullah dengan Umamah dan Husein. Rasulullah ingin wajahnya paling banyak di-scan cucunya.  Sejauh mana ayah banyak di-scan wajahnya, dampaknya kelak saat dewasa.

Anak akan merecall wajah ayah, sosok ayah di saat masa-masa kritis. Seperti kisah Yusuf saat digoda istri raja. Zulaikha. Dalam surat Yusuf ayat 24, disitulah muncul sosok ayahnya. Dalam kitab Adwaul Bayan, pakar Tafsir tabiin Mujahid menjelaskan bahwa Yusuf melihat wajah ayahnya di dinding.

Qatadah pun mengatakan nampak di hadapannya Yaqub yang menggigit kedua jarinya seraya berkata,’apakah engkau melakukan yang orang bodoh lakukan padahal engkau adalah seorang nabi’. Karenanya, Yusuf pun tak tergoda Zulaikha.

Dalam konteks sekarang, di masa kritis, peran ayah akan sangat dahsyat bahkan bisa menyelamatkannya. Misal, saat ABG saat anak merokok, anak bisa menolak dengan ‘kata bapakku’, ia ingat bapaknya.

Lalu, setelah fase anak, di fase tamyiz yang dicirikan ulama anak sudah bisa membedakan kanan dan kiri. Anak mulai dilatih pola pikirnya dengan dialog, banyak bertanya seperti bagaimana Ibrahim berdialog dengan Ismail dalam surat As Shafat 102, Ibrahim menanyakan pendapat Ismail tentang mimpi.

Dari sisi parenting ini disebut thinking work, kalimat mengajak berpikir. Contohnya dalam konteks sekarang:’Nak, di luar hujan, nanti sakit lagi, bagaimana kalau pakai jaket?’ Jadi, bukan memerintahkan,’Nak pakai jaket!’. Dengan melatih daya pikir, maka anak menjadi cerdas, tidak seperti generasi ‘alay’ sekarang yang karena jarang dilatih, tidak tahu mana informasi yang benar dan salah.

Dalam Quran pun berkali-kali kita diajak untuk berpikir dulu. Al Qariah, Mal Qariah, Wa Ma Adra Kamal Qariah? Baru dijelaskan apa itu Al Qariah. Di sini, secara sederhana anak dilibatkan dalam mengambil keputusan, seperti diajak diskusi saat hendak membeli mobil, dimintai pendapat, dan kelak si anak akan merawat mobilnya dengan senang hati, tanpa disuruh.

Anak pada fase ini akan tumbuh menjadi pribadi kritis, tidak kehilangan arah, dengan hanya menjawab: terserah, ya gitu deh, dsb. Fase ketiga, setelah tamyiz- baligh, yaitu fase syabab (pemuda), bukan remaja (muharik) yang berarti bodoh, dungu, jahil.

Istilah yang benar adalah syabab, sebab kalau remaja, kita suka memaklumkan kejahilan mereka. Mereka berbuat salah, dimaklumkan ‘maklum masih remaja’. Padahal hisabnya sama, sudah punya rekening amal sendiri. Karenanya, jangan kita maklumkan, kita harus arahkan dan punya kesibukan.

Tugas ayah di fase remaja, memastikan anak punya kesibukan, anak punya rundown harian. What next? Seandainya harus bermain pun yang penting diagendakan. Kalau tidak? Ia menjadi tidak jelas, ujung-ujungnya main game, dan lainnya. Inilah remaja yang bermasalah sekarang.

Lalu bagaimana dengan peran ayah sebagai suami di fase ini ?

Pada fase ini, ibu atau istri kita harus menjadi magnet pulang. Fungsi kenyamanan ibu tidak boleh hilang, jangan sampai ibu dianggap musuh, inilah petaka pertama dalam parenting yaitu ketika ibu tidak dirindukan. Anaknya nongkrong di mall, kafe. Mengapa?

Karena ibu seperti satpam, atau KPK yang bertanya kepada koruptor. Kaitannya dengan ayah? Ya, karena ayah saat itu tidak tegas terhadap aturan anak, sehingga ibu yang akhirnya bilang, mengatur dan membuat banyak aturan sehingga menjadi musuh bagi anak.

Seharusnya, ayah yang mengatur. Jika ayahnya tegas, ibu akan membuat magnet besar, menjadi dirindukan. Karenanya, ibu pun harus punya energi positif, sahabat, termasuk lewat makanan, memijit, dan lainnya.

Lalu, setelah tiga fase itu terlewati?

Ada yang bilang fase dewasa, dan bertanggung jawab, setelah 15 tahun. Anak harus dilibatkan dengan aktivitas orang dewasa. Rasulullah pada usia 15 tahun sudah ikut perang Fijar, di sana walau hanya memungut panah. Tapi Rasul sudah ikut aktivitas orang dewasa.

Di konteks sekarang, misal anak punya bakat fotografi, dia bisa mengikuti fotografer terkenal, walau hanya melihat saja. Dia akan mendapat wawasan, semakin mantap. Kalau mau jadi ulama, tempel ustadz. Jadi arsitek, dimagangkan. Juga aktif berorganisasi supaya belajar manajerial. Dan kita pun ikut memberi masukan saat anak kita hendak menikah.

Secara detail, bagaimana mengatur waktu agar bisa mendidik anak dalam tiap fasenya?

Ada lima waktu reguler yang bisa kita lakukan untuk mendidik anak. Pertama, saat pagi ayah membangunkan anak. Ayah menjadi proyeksi dunia luar anak yang siap sekolah, seperti ayahnya siap bekerja. Bukan ibu yang membangunkan tetapi ayah. Lalu, pagi ayah memberikan motivasi seperti halnya Rasul selalu bertanya kepada sahabat siapa yang bermimpi indah. Perasaan positif ini memengaruhi anak seharian.

Kedua, siang hari diusahakan menyapa anak sebagaimana rasulullah selalu menyapa Anas bin Malik pada siang hari. Konteks sekarang karena ada teknologi, ada telepon. Tanya apa yang disukai anak, seperti Rasulullah dalam riwayat menanyakan Abu Umair ‘bagaimana kabar burung pipitmu?’ sang Anak pun bercerita kepada Rasulullah.

Jadi, tanyalah hobi anak. Bukan langsung sudah shalat belum? Rasul tidak pernah menanyakan assalaituka? Kamu sudah solat? Tetapi, tanya dulu kesenangannya, baru selanjutnya pertanyaan lainnya.

Ketiga, ialah malam hari, waktu reguler ayah melakukan jurnal harian anak. Menanyakan apa yang sehari –hari anak lakukan, karena kita tidak setiap saat bersama anak. Seperti halnya Rasulullah bertanya tiap malam pada Ibnu Abbas, dan menasihatinya. Jika yang baik kita puji, yang buruk kita nasehati.

Keempat, saat waktu makan sebagaimana Rasulullah menasihati sahabatnya. Saat makan, sunnahnya jangan diam saja. Dan terakhir, kelima saat naik kendaraan, seperti halnya Rasulullah bercerita kepada Ibnu Abbas saat sedang naik onta bersama, tentang hadits” Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu.”

Jadikan saat mengantar anak, walau setengah jam menjadi berkualitas. Inilah momen bercerita, menjadikan pemandangan sebagai pelajaran, kondisi dinamis yang bisa mendapatkan banyak hal.

Jika masih sulit dalam kelima waktu tersebut hadir, bagaimana?

Kita bisa memanfaatkan waktu ireguler. Di mana saat kita merebut hati anak kita, ini akan menjadi suatu yang dahsyat. Ini disebut golden momen yaitu saat anak sedih,  anak akan membutuhkan sandaran jiwa. Dan bila kita hadir akan menjadi super hero baginya.

Lalu, saat anak sakit seperti rasulullah menjenguk orang yang sakit. Ada juga saat anak unjuk prestasi seperti halnya Rasulullah mengunjungi bani Aslam yang sedang bermain panah, lalu rasul bilang, ‘memanahlah, karena kakek moyang mu Ismail seorang pemanah’.

Selanjutnya saat sedang berlibur. Dan terakhir, saat anak melakukan kesalahan. Ayah harus menjadi orang yang pertama meluruskan kesahalan anaknya. Sebagaimana kisah Umar bin Abdul Aziz terlambat shalat karena terlalu lama mengurusi rambutnya yang gondrong, maka Abdul Aziz segera menyurati Umar: ‘Bersama ini saya kirimkan tukang cukur dari Mesir sebagai hukuman’

Apa tantangan mendidik anak sekarang?

Tantangan terbesar ialah ego kita saja untuk mengalahkan hobi dan kesenangan kita. Hobi kita sebagai orang tua untuk main gadget adalah tantangan terbesar, gadget! Anak itu cemburu gadget, kita bisa berlama-lama dengan gadget, tapi begitu bermain sebentar misal kuda-kudaan dengan anak cepat lelah, dan melihat ini betapa cemburunya dia.

Di keluarga, saya punya waktu nggak boleh dengan gadget dengan metode 18: 21 (dari jam 18.00- 21.00). Alhamdulillah kami terapkan di rumah. Di waktu itu nggak ada gadget atau TV. Kami bisa membaca, bermain, murajaah hafalan, menghafal Quran sampai jam 9.

Tips agar menjadi ayah yang baik?

Anak itu amanah, kelak buah dari pengasuhan di padang mahsyar, seperti dalam hadits, sesungguhnya ada ayah ditinggikan derajatnya di surga.  Ayah ini bertanya mengapa, Allah menjawab, karena doa dan permohonan ampun anakmu.

Kedua, luruskan niat, mendidik anak bukan dibanggakan dipamerkan atau menjadi ayah teladan di mata manusia. Allah sudah membuat Adam, Nuh, Ibrahim, Imran (dalam surat ali Imran) sebagai teladan ayah atas segala umat, dari sinilah Islamic Parenting bermula. Ketiga, bekali dengan ilmu, lalu evaluasi perkembangan anak, tak sungkan belajar, dan terakhir diskusi dengan pasangan, yang sejatinya partner peradaban kita.