Mimpi Negeri Tanpa Rohingya

Mimpi Negeri Tanpa Rohingya

Muslim rohingya yang disebut manusia paling terkucilkan di dunia oleh PBB (foto: AFP)

“Perlu diketahui, warga Rohingya tak memiliki banyak kekuatan, hak, maupun kendali dalam urusan-urusan di Burma. Mereka miskin, dan tidak diizinkan melakukan perjalanan. Pemerintah Burma juga tak mengizinkan pemuda Rohingya untuk belajar dan memperoleh pendidikan: medis, teknis, administrasi bisnis, hukum, atau pendidikan dasar yang seharusnya wajib”

MALAM semakin larut. Pekatnya menyepuh langit Bangkok, Thailand. Jantung kota ini seakan terus berdetak dengan gemerlap yang tak kunjung padam. Taksi-taksi masih melaju dan menepi. MRT melesat menerabas relung-relung beton kota, hingga membawa kami ke wilayah Ramkhamhaeng, melewati cahaya kemilau gedung-gedung penantang langit yang masih berpendar.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.30 waktu setempat. Perlahan, kerai-kerai mulai terkerek, merapat. Pintu-pintu sudah mulai menutup. Suasana semakin senyap dalam temaram. Namun, selemparan batu sebuah mini market kesohor yang buka 24 jam di Bangkok, tangan lincahnya masih saja terus menggemaskan, membulak-balikkan adonan terigu.

Assalamu’alaikum,” sapa pria yang sibuk dengan adonannya tersebut.

Wa’alaikumussalam,” sontak saya kaget karena tak begitu memperhatikan tukang martabak telur itu.

Dalam kondisi sangat lapar,  buru-buru mencari makanan halal di mini market hingga tak acuh suasana sekitar memang hal wajar. Saya lihat lamat-lamat sang pria penyapa. Dilihat lebih dekat, nampak paras Asia Selatan – Tenggara. Kemeja berbahan kaos, bagian lengan tergulung, dengan celemeknya menempel, bak koki profesional. Nampak sedang mengambil telur, yang diambil dari gerobaknya. “Abdurrahman, nama saya Abdurrahman, dari Arkan, Rohingya Myanmar,” katanya dengan senyum ramah.

Abdurrahman
Abdurrahman nampak memecahkan telur, memasak martabak telur, sepenggal malam di Bangkok, Thailand (ALHIKMAH/rizki)

Sebelumnya, berdua, saya bersama Pak Mus, Ketua misi kemanusiaan Road4peace dari Malaysia nampak berbincang Bahasa Melayu. Nampaknya ia menyimpulkan kalau kami juga umat Islam. Memang, konon Melayu memang tak bisa dipisahkan dengan Islam, kata Peneliti Kebudayaan Melayu Prof. Abdul Hadi WM dalam sebuah artikelnya.

Mendengar kata Rohingya, saya pun terkejut. Kami pun berkenalan, dan bercakap Melayu. Sudah lima tahun, Abdurrahman berada di Thailand bersama istrinya. Ia ‘kabur’ dari negeri Arakan, tanah kelahirannya. Sambil menikmati sepotong martabak telur pisang seharga 20 bath, saya pun banyak mendengar kisah Abdurrahman. Tak lama, kami harus berpisah, dan dia titip salam jika bersua dengan etnis Rohingya lainnya.

Sepenggal malam di Bangkok di pengujung tahun 2014, menjadi kenangan tersendiri akan Rohingya. Mendengar Rohingya, kita akan melompat ke sebuah tempat di negeri yang dulunya dikenal dengan Burma –kini Myanmar. Laporan Badan internasional dan media internasional, menyebutkan warga Rohingya merupakan “Poverty-stricken and loathed at home, Myanmar’s Rohingya are one of the world’s most persecuted minorities — yet their dire situation has long been ignored in Southeast Asia.”

Tak diakui warga negara, paling dibenci, paling miskin, dikucilkan, hingga mengalami genosida, membuat jutaan muslim Rohingya memilih untuk ‘hijrah’ menjadi muhajirin ke manapun negeri yang dituju, dengan sejumput asa akan masa depan yang lebih baik. Maka muncullah manusia-manusia perahu mengarungi ganasnya bahari laut Andaman, hingga menembus relung Selat Malaka.

Tak heran, Abdurrahman lebih memilih keluar dari kampung halamannya, berpeluh di negeri orang, demi sesuap nasi yang di negerinya belum tentu ia nikmati. Abdurrahman bukan Rohingya pertama yang pernah kami jumpai. Setahun sebelumnya, Abdur Rauf, Rohingya yang sudah 17 tahun tinggal di Malaysia, juga ratusan kawannya membuat mata kami terus menerus menderaikan air mata mendengar kisah mereka.

Abdur Rauf (tengah) bersama Rohingya dari ERCA dalam Konvensi Road4peace di Malaysia. (ALHIK
Abdur Rauf (tengah) bersama Rohingya dari ERCA dalam Konvensi Road4peace di Malaysia. (ALHIKMAH/rizki)

Dan kini, mata dunia internasional sedang menoleh ke ujung Barat negeri ini, Nangroe Aceh Darussalam. Tak disangka, di tengah beberapa negara saling tolak menerima pengungsi Rohingya, kebesaran hati justru muncul dari para pelaut, nelayan Aceh yang menyelamatkan ribuan manusia perahu Rohingya yang terusir dari negerinya. Hingga tulisan ini dibuat, 1715 imigran Rohingya dan Bangladesh masih berada di Aceh.

Mengapa Rohingya harus pergi dari tanah kelahirannya? Padahal, dalam beberapa literatur disebutkan bahwa daerah Arakan – dikenal dengan Rakhine tempat tinggal kini orang Rohingya -, sudah lama ditinggali umat Islam, bahkan jauh sebelum berdiri Myanmar. Dalam catatan sejarah, disebutkan pada abad 8, penyebaran Islam sudah sampai Burma, dan abad 14 diperkirakan berdiri kerajaan Islam Arakan, seperti misalnya dalam catatan Francis Buchanan (1799).

Arkeolog Aceh cum peneliti Kerajaan Aceh dan Samudera Pasai, Dedy Satria mengatakan kepada Alhikmah.co, kerajaan Islam Arakan berada sezaman dengan Samudera Pasai.  “Saya pikir, Arakan itu sama tuanya dengan negeri-negeri awal Islam juga itu Samudra Pasai. Memang itu negeri kecil yang berada dalam bayang-bayang kerajaan Budha,” ungkapnya di Aceh beberapa waktu silam.

Arakan, sebuah negeri muslim di pojok Myanmar, yang kini berada dekat Teluk Beggala dan Bagladesh ini, menurut Dedy merupakan wilayah perdagangan di mana antar komunitas umat Islam saling terkoneksi satu sama lain.

“Samudra Pasai saya yakin itu punya kontak (dengan Arakan), karena ini negeri-negeri di kawasan Teluk Benggala muslimnya terkait. Misalnya muslim India bagian selatan, dari Serak, dari pesisir Malabar di Pantai Barat India bagian selatan, atau kolomandel dibagian timur dekat Teluk Benggala punya komunitas Muslim yang tidak berdiri sendiri, tapi dia terkoneksi satu titik dengan titik lain, hanya saja dibawah bayang-bayang orang Hindu dan Budhis,” kata Dedy.

Pendapat serupa diungkapkan oleh ERCA (Ethnic Rohingya Committee of Arakan) dalam acara Convension NGO Internatioal Road4Peace III yang saya ikuti di Malaysia. Abdur Rauf, Ketua ERCA asli Arakan itu bilang, bahwa nenek moyangnya telah mendiami Arakan lebih dari satu milenium. Dalam catatan sejarawan pun, kita akan menemukan bahwa Arakan telah didiami oleh komunitas Islam selama berabad-abad mulai abad pertama Hijriah.

Dulu, kapal-kapal merapat ke sebuah dermaga sebuah Teluk di Barat Daya Myanmar kini, riuh ombak yang terus bergoyang, layar-layar yang terkembang. Orang–orang yang kian ramai, membopong karung di pundaknya, semua seakan bercampur dalam nuansa tersendiri. Beberapa generasi, tak bisa dibedakan lagi mana pendatang dari atas geladak, mana orang sekitar, cahaya Islam merasuk mantap ke dalam relung yang nun di dalam jiwa.

Di balik lembah-lembah, di antara perbukitan, di balik celah Himalaya dan dataran tinggi Cina, turun temurun dalam harmoni antar umat beragama, sang Raja Mualaf, mendirikan Kerajaan Islam Arakan yang berlanjut selama lebih tiga abad, 1420- 1784, sampai akhirnya runtuh oleh Kerajaan Burma. Roda selalu berputar. Tak selamanya negeri impian nan damai itu eksis, kelak ia akan menjadi kenangan nan dirindu.

Arakan - kini dikenal Provinsi Rakhine (sumber foto: www.freeburmarangers.org)
Arakan – kini dikenal Provinsi Rakhine (sumber foto: www.freeburmarangers.org)

Ilham Kadir dalam Teori Ibnu Khaldun dan Muslim Rohingya menulis “Teori Bapak Sosiologi, Ibnu Khaldun (1332-1395 M) benar-benar berlaku di sini. Saat satu komunitas hidup damai dan sentosa, mereka selalu merasa tenang dan menikmati hidup dengan penuh kenyamanan hingga pada titik tertentu mereka terlena. Komunitas yang bernama negara itu, terlena dengan hasil pertanian yang melimpah, tangkapan laut yang memadai, dan perdagangan yang menguntungkan.

“Mereka tidak sadar jika ada bangsa lain di sana yang sedang menyusun kekuatan untuk menaklukkan mereka, lalu memiliki apa yang mereka peroleh selama ini. Begitulah nasib Muslim etnis Rohingya, saat berada pada puncak kegemilangannya, kerajaan Burma menyusun kekuatan lalu menyerang mereka, invasi besar-besaran ini terjadi pada tahun 1785,” katanya.

Sejak itu, sulit ditemukan peninggalan dan jejak islam yang masih selamat. Pada tahun 1824 Arakan pindah tangan dalam jajahan Inggris. Penindasan kepada umat Islam pun mulai bermula, hingga Myanmar merdeka dari Inggris tahun 1948, etnis Rohingya mulai mendapat perlakuan tak seharusnya. Gelombang pengungsi besar-besaran bermula, dari Arakan ke  Banglades dan di mana pun udara bebas itu ada.

Rezim militer Burma mengubah muslim Rohingya menjadi muslim yang benar-benar terisolasi, dibatasi, hingga tak mampu berbuat banyak. Tak bisa bekerja, masuk ke pemerintahan, bahkan tak bisa membaca hingga menulis huruf latin, itulah potret mereka, seperti ditulisakan Muhammad Faruq, Rohingya yang kini tinggal di Norwegia.

In this photo taken on Sept. 8, 2012, Muslims gather during a visit by a delegation of American diplomats including U.S. Ambassador to Myanmar Derek Mitchell, unseen, at a refugee camp in Sittwe, Rakhine State, western Myanmar. Three-and-a-half months after some of the bloodiest clashes in a generation between Myanmar’s ethnic Rakhine Buddhists and stateless Muslims known as Rohingya left the western town of Sittwe in flames, nobody is quite sure when -or even if- the Rohingya will be allowed to resume the lives they once lived here. (AP Photo/Khin Maung Win)
Foto ini diambli pada 8 September 2012, di pengungsian Rohingya di Sittwe, Rakhine State (AP Photo/Khin Maung Win)

“Perlu diketahui, warga Rohingya tak memiliki banyak kekuatan, hak, maupun kendali dalam urusan-urusan di Burma. Mereka miskin, dan tidak diizinkan melakukan perjalanan. Pemerintah Burma juga tak mengizinkan pemuda Rohingya untuk belajar dan memperoleh pendidikan: medis, teknis, administrasi bisnis, hukum, atau pendidikan dasar yang seharusnya wajib,” katanya dalam Rohingya belongs to Arakan, no to Bengal.

Jutaan muslim Rohingya, selama 50 tahun terakhir kian menyusut. Jangankan untuk bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari, untuk shalat pun, dalam senyap dan sunyi mau tak mau harus terlakoni. “Kami khawatirnya mereka dizalimi karena mereka muslim,” kata Andhika, relawan ACT yang pernah masuk ke jantung Provinsi Arakan, Sitwe, sepenggal 2013 silam, dikutip Alhikmah.co dalam Laporan dari Arakan: Rohingya, Duka Muslim yang Terlupakan’.

ACT dalam misi kemanusiaanya, mengirim relawan: Andhika dan Yusnirsyah Sirin yang sudah beberapa kali masuk ke wilayah Sittwe, wilayah pusat di Rakhine State, tempat umat Islam Rohingya kini tinggal dan mengungsi di kampung sendiri. “Akar konflik kejadian yang baru-baru ini (red_2012) merupakan mimpi dari radikal umat Budha yang ingin menjadian Myanmar sebagai ‘kota sucinya’ umat Budha,” kata Yusnirnsyah. Myanmar benar-benar bermimpi untuk menghilangkan istilah ‘Rohingya’ dari negerinya.

Yusnirsya Sirin (kanan), (pic:google+ yusnirsyah)
Relawan ACT Yusnirsya Sirin (kanan), (pic:google+ yusnirsyah)

Majalah Tempo dengan Headline ‘Luka Rohingya’, dalam Kaum Tak Dikehendaki melansir laporan bahwa setelah tahun 1942 terjadi genosida terhadap 100.000 Rohingya, beberapa peristiwa penting pun terus terjadi. Tahun 1982, Myanmar akhirnya secara resmi tak mengakui Rohingya sebagai warga negara.

Tahun 2006, Arakan National Council menyatakan Rohingnya sebagai kaum Bangladesh. Padahal, sejak tahun 1992, Bangladesh tak mengakui Rohingya, dan menganggapnya sebagai imigran gelap. Langkah Rohingya pun semakin sunyi. Baru setahun silam, 2014, Myanmar melarang sebutan Rohingnya, memaksakan pengakuan bahwa mereka adalah kaum Bengali. Mimpi Negeri Tanpa ‘Rohingya’ kian mewujud.

Istilah Rohingya sendiri menjadi masalah bagi Myanmar. Sekjen PBB, Ban Ki-moon, menggunakan istilah ‘rohingya’ kala kunjungannya ke Nay Pyi Taw, yang langsung mendapat penolakan keras dari Gubernur Arakan (Rakhine), U Maung Maung Ohn.

Biksu Ahsin Wirathu dalam Majalah TIME (sumber foto:iberita.com)
Biksu Ahsin Wirathu dalam Majalah TIME (sumber foto:iberita.com)

Bahkan, Biksu Wirathu, mengecam anggota khusus HAM PBB di Burma, Yang-hee Lee, dalam pidatonya Januari lalu. Ia menyebut Yang-hee Lee sebagai pelacur karena menggunakan istilah Rohingya. Langkah Biksu Wirathu ini diikuti biksu dan warga Budha lain dengan demonstrasi besar yang menentang penggunaan istilah Rohingya.

Masih, menurut Relawan ACT Yusnirsyah Sirin, ia mendengar langsung dari para biksu yang berkata bahwa umat Budha di Pulau Jawa dulu dibantai oleh umat Islam, dan dendam itu harus dibalaskan kepada umat Islam di Arakan. “Di Myanmar, para monk (biksu) lebih berpengaruh dibandingkan walikota. Monk muda progresif radikal mereka mengaburkan fakta, bahwa terjadi pembantaian umat Islam dulu di Jawa,” kata Yusnirsyah kepada Alhikmah.

“Tapi kami bantah bahwa buktinya candi Borobudur masih ada. Kami datangi orang Budha dan memberitahu bahwa di Indonesia umat Budha dan Islam dapat hidup berdampingan,” kata Andika. Menurut Yusnirsyah, kemungkinan konflik ditambah dengan penguasaan perdagangan umat Islam di Myanmar, menyebabkan mereka dizalimi.

Relawan ACT Andhika P Swasono (pic:itoday)
Relawan ACT Andhika P Swasono (pic:itoday)

Walaupun biksu radikal memang secara nyata mengusir dan membunuh umat Islam, tapi menurut Andhika, masih ada sedikit biksu yang bisa diajak berdialog dan lebih toleran. “Bahkan ada orang Budha yang sampai dibakar karena melindungi umat Islam. Kami berharap, di akar rumput masih bisa terjadi toleransi,” pungkas Andhika.

Lalu, bagaimana kondisi sehari-hari Rohingya di Arakan, kampung halamannya sendiri? Bagaimana keadaan mereka sehari-hari? Bagaimana kisah relawan yang pernah datang langsung ke Sittwe? Bagaimana ‘curhat’ Rohingya kepada Alhikmah tentang kondisi Arakan? Mengapa dan bagaimana mereka terpenjara hingga berujung di tepi lautan? Nantikan tulisan selanjutnya, pada ‘Jadi Pengungsi di Kampung Halaman Sendiri’

(Oleh : Rizki Lesus, wartawan Tabloid Alhikmah, anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU))