Etika di Sebuah Majelis Ilmu yang Diajarkan Rasulullah

Etika di Sebuah Majelis Ilmu yang Diajarkan Rasulullah

0 6152

RASULULLAH merupakan suri tauladan yang baik, karena mempunyai sifat yang luhur dan berbudi. Beliau mengajarkan sedemikian rupa tentang semua aspek kehidupan manusia. Dengan adab dan etikanya, beliau mengatur manusia dalam berbuat, sehingga mempunyai relevansi terhadap kehidupan sosial.

Pelajaran yang diberikan beliau dalam kehidupan ini juga sangat menyeluruh. Tidak hanya terbatas pada masalah-masalah yang besar saja, akan tetapi sampai pada permasalahan yang kecil. Seperti halnya masalah etika ketika berada di sebuah majelis ilmu. [1]

Berikut beberapa adab yang diajarkan Rasulullah bila sedang berada di majelis :

  1. Melapangkan majelis, sebagaimana yang termaktub dalam firman-Nya : “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Mujadalah [58]: 11)

Ayat ini memberi tuntunan tentang cara menjalin hubungan keharmonisan dalam suatu majelis. Allah memerintah umat muslim untuk berusaha melapangkan tempat duduk bagi orang yang datang dalam majelis itu. Tidak boleh berlega-lega ria menghabiskan tempat sedang yang lain berdesak-desakan apalagi sampai orang lain tidak mendapatkan tempat duduk. Jika melapangkan majelis ini dilakukan dengan suka rela, niscaya Allah akan melapangkan segala sesuatu dalam hidup kita ini. [2]

  1. Duduklah Bersama Para Ulama, dalam Majelis ilmu, kita diperintahkan untuk duduk bersama para ulama (ahli ilmu), kemudian disuruh untuk bertanya masalah ilmu kepada mereka. Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah dalam haditsnya : “Dari Abi Juhaifah berkata: Telah berkata Rasulullah SAW: Duduklah kalian semua bersama para Ulama’ dan bertanyalah kalian semua kepada orang besar atau tokoh dan bergaulah kalian semua bersama orang-orang yang ahli hukum. (HR. Thabrani).

Dari hadits di atas Rasulullah SAW menyuruh umatnya untuk duduk berdekatan dengan para ulama’ (orang-orang yang berilmu) dalam suatu majelis ilmu. Dengan begitu akan mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk bertanya kepada mereka terutama dalam masalah agama. [3]

  1. Dilarang Mengusir Orang dari Tempat Duduknya, dalam suatu majelis, sebagai seorang muslim dilarang mengusir orang lain dari tempat duduknya, untuk selanjutnya ditempati. Rasulullah SAW bersabda: “Dari Ibnu Umar RA: Rasulullah SAW bersabda: Orang tidak boleh mengusir orang lain dari tempat duduknya untuk kemudian di dudukinya, tetapi katakan tolong lapangkan dan longgarkan sedikit”. (Muttafaqun Alaih)

Hadits di atas menggambarkan betapa mulia dan tingginya kedudukan seseorang di tengah masyarakat. Karena jika hendak diberi tempat duduk, maka janganlah mengusir orang yang sedang menduduki tempat yang dimaksud, untuk menggantikannya dengan kasar.

Hendaknya jika masih ingin duduk maka gunakanlah kata-kata yang halus agar tidak menyinggungnya seperti yang terdapat dalam hadits “tolong lapangkan dan longgarkan sedikit”. Akan tetapi lebih baik mencari tempat duduk yang belum terisi dan jangan sekali-kali menyingkirkan orang lain dari tempat duduknya, agar suasana tetap tenang dan orang lain pun tidak tersinggung. Karena orang yang tersebut mempunyai hak penuh atas tempat duduknya. [4]

  1. Perintah Berdzikir dalam Majelis Ilmu, Rasulullah memerintahkan kepada umatnya untuk berdzikir kepada Allah, sebagaimana sabdanya: “Tidaklah suatu kaum duduk dalam suatu majelis untuk berdzikir mengingat Allah, melainkan mereka akan dikelilingi oleh para Malaikat, diliputi rahmat, dan Allah menyebut-nyebut mereka dikalangan makhluk yang ada disisinya” (HR. Ibnu Majah).

Hadits di atas menjelaskan bahwa salah satu etika dalam majelis ilmu yaitu untuk berdzikir kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah SWT mempunyai malaikat yang akan mendatangi majelis dzikir. Jika mereka bertemu dengan suatu majelis dzikir Allah, mereka akan ikut bersama hadirin dengan mengembangkan sayap, menatapkan mata dan berputar-putar sekeliling hadirin, sebagian mereka atas yang lain, sehingga penuh sesaklah antara hadirin dan langit dunia. Setelah itu para malaikat kembali kepada Allah untuk melaporkan apa yang dilakukan oleh hamba-Nya. Kemudian Allah berikan ampunan kepada mereka.[5]

[1] Mahmud Sya’roni, (2006), Cermin Kehidupan Rasul, Semarang: Aneka Ilmu, hlm. 80

[2] Quraish Shihab, (2002), Tafsir al Mishbah, Jakarta: Lentera Hati, hlm. 77

[3] Husaini A. Majid, (1993), Syarah Riyadhusshalihin,  Surabaya: PT. Bina Ilmu, hlm. 71

[4] Mahmud Sya’roni,Op.cit, hlm. 82

[5] Abdul Rasyad Siddiq (2009), Bulughul Maram, Jakarta: Akbar,  hlm. 704