Adab Manusia Terhadap Lingkungan

Adab Manusia Terhadap Lingkungan

0 2910
pict.seputarsulut

SETIAP makhluk hidup sangat terpengaruh oleh lingkungan hidupnya, pun sebaliknya, keberlangsungan makhluk hidup juga dapat memengaruhi lingkungannya. Jika diperhatikan, antara makhluk hidup dan lingkungan senantiasa terjadi interaksi, sehingga di antara keduanya merupakan satu kesatuan secara fungsional yang disebut ekosistem. Oleh sebab itu, setiap individu dituntut untuk bertanggung jawab atas keharmonisan, kebersihan, dan keteraturan lingkungan di mana ia tinggal.[1]

Sebelum manusia yang diciptakan di muka bumi, Allah SWT telah menciptakan makhluk berupa tumbuhan yang beraneka ragam dan berbagai jenis hewan. Sebagaimana dalam firman-Nya berikut ini : “Allah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS. an-Nuur [24]: 45).

Begitu juga dengan tumbuhan. Salah satu bagian dari alam yang merupakan anugerah, bukan hanya untuk kehidupan manusia, tapi juga kehidupan binatang itu sendiri. Allah berfirman: “… Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal” (QS. Thaha [20]: 53-54).[2]

Demikian, beberapa makhluk ciptaan-Nya, yang disediakan Allah untuk digunakan dengan sebaik-baiknya oleh manusia. Sebagaimana firman-Nya : “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (QS. al-Baqarah [2]: 29).

Dari ayat di atas, tak heran bila Allah juga memerintahkan kepada manusia agar tidak merusak lingkungan. Allah berfirman : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. al-Qashsas [28]: 77). [3]

Ini artinya bahwa manusia, berkewajiban memelihara lingkungan hidup di samping memanfaatkan apa yang telah Allah sediakan. Larangan merusak lingkungan, maknanya sangat luas, namun pada intinyalarangan tersebut untuk menghindari gangguan fungsi dasar komponen alam ini. apabila udara tidak segar lagi atau air mulai terkontaminasi, semua itu menunjukkan terjadinya kerusakan.

Dalam firman-nya Allah mengancam orang yang berbuat kerusakan di muka bumi : Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,” (QS. al-Maidah [5]: 33)[4]

[1] Imas Rosyanti, (2002) Esensi Al-Qur’an, Bandung : Pustaka Setia, hlm. 117

[2] Rosihan Anwar, (2008) Akidah Akhlak, Bandung Pustaka Setia, hlm. 244

[3] Imas Rosyanti, op.cit, hlm. 123

[4] Damanhuri Djamil (1985), Kesatupaduan manusia dan Alam, Bandung: Penerbit Pustaka, hlm. 136

Komentar ditutup.