Agar Muslimah Jadi Bidadari Arsitek Peradaban

Agar Muslimah Jadi Bidadari Arsitek Peradaban

4 416

DALAM sebuah riwayat, Rasulullah Saw., pernah berkata fitnah terbesar adalah wanita. Selain itu, dikatakan pula bahwa kebanyakan isi dari neraka itu adalah wanita. Dari kedua hadits tersebut, tentu ini menjadi peringatan bagi kaum wanita untuk mawas diri, agar tidak termasuk ke dalam golongan yang demikian.

Namun, di sisi lain, keberadaan perempuan dalam membangun peradaban tidak bisa diabaikan. Dalam keterangan lain pun, dikatakan cerminan bangsa dilihat dari wanitanya. Bila wanitanya baik, maka baik pula negara tersebut, pun sebaliknya. Karena itu, semua orang, termasuk wanita bisa berperan membangun peradaban. Walaupun Peran yang dimainkan pun tidak harus sama.

Untuk membangun peradaban memang dibutuhkan peranan yang beragam. Semuanya tidak harus menjadi ustadzah, tapi ada yang memainkan peran yang lain. Seperti wairausaha atau ibu rumah tangga misalnya, tapi tetap semua peranan itu dimainkan dalam koridor membangun peradaban yang islami.

Untuk menjadi arsitek peradaban memang tidaklah mudah. Perlu usaha dan pengorbanan yang tidak sedikit. Namun itu semua akan terasa lebih mudah bila dijalani secara bersama-sama, tidak shaleh sendiri-sendiri. Walaupun demikian, bekal dasar untuk menjadi arsitek peradaban bisa dirangkum dengan tiga hal. Pertama, ilmu yang mumpuni, akhlak yang mulia, dan niat yang ikhlas karena Allah semata.

Kenapa harus diawali ilmu? Karena dengan ilmulah kita bisa mengetahui mana yang benar atau yang salah. Kenapa harus berakhlak mulia? Karena dengan menunjukkan akhlak yang mulia, ilmu yang disampaikan akan lebih mengena. Kenapa harus ikhlas? Karena itulah yang akan menjadi jalur diterimanya amalan ibadah yang sudah diusahakan.

Karena itu, untuk menjadi arsitek peradaban, agar menghindari keempat hal, yang  dirumuskan ke dalam Empat Jangan. Pertama, jangan kasar. Kedua jangan menggurui. Ketiga, jangan menyerang. Keempat, jangan jelimet atau rumit. In syaa Allah, apa pun peran yang kita mainkan, bila mengikuti tiga hal dan menghindari Empat Jangan tadi, kita bisa menjadi bidadari arsitek peradaban islam yang baldatun tayibatun warrabun ghafur.  []

*Diolah dari salah satu kajian Teh Ninih Mutmainnah pada seminar kemuslimahan di Darut Tauhid sepenggal Maret 2014 yang lalu