Universitas Itu Bernama Pesantren

Universitas Itu Bernama Pesantren

5 105

Oleh: Asep S. Muhtadi*

 “Universitas yang sesungguhnya itu bernama pesantren”. Demikian kata seorang kiai yang akhirnya lolos diwisuda menjadi sarjana. Entah dari mana asal muasalnya kiai jebolan pesantren salafiyah itu kemudian mau menjadi sarjana. Tapi ceritanya dapat ditelusuri hingga awal perjumpaannya kembali dengan sesama alumni pesantren yang beberapa tahun silam dia memilih kuliah di salah satu universitas Islam swasta tidak jauh dari kampung halamannya.

 Sahabat kiai itu memang telah menjadi pengajar di universitas alma maternya, bahkan dipercaya menjadi ketua jurusan tempat dia menimba ilmu sebelumnya. Saat itu dia sedang promosi ke lembaga-lembaga pendidikan Islam untuk menjaring calon mahasiswa baru yang diharapkan dapat melanjutkan studi pada jurusan yang dipimpinnya. Saat itulah dia berjumpa dengan kawan lamanya, sang kiai.

Sejenak dia prihatin menyaksikan kehidupan kiai yang terlampau bersahaja. Sosok fisiknya terkesan lebih tua dibanding usia yang sesungguhnya, padahal usianya masih di bawah angka 50-an. Penampilannya jauh dari kemewahan, bahkan sekedar bersih-rapih pun tidak. Sangat di luar dugaannya. Sebab dia tahu kalau sewaktu sama-sama mesantren, kiai muda itu tergolong santri yang amat cerdas. Ilmunya tinggi, puluhan kitab telah dia rampungkan lebih cepat dibanding kawan-kawan seangkatannya. Dialah santri yang pertama kali dipercaya sang guru untuk menjadi asisten dalam mengajar santri-santri yuniornya. Pendeknya, dia telah menjadi kiai sebelum lulus meninggalkan pesantren.

Lalu sang kiai pun diajak melanjutkan kuliah di jurusan tempat sahabat lamanya itu bekerja. Dengan berbagai alasan pragmatis maupun ideologis, akhirnya kiai itu mengikuti ajakan sahabatnya, melanjutkan kuliah ke universitas. Dengan bekal ijazah Aliyah, kiai itu diterima sebagai mahasiswa pada jurusan agama Islam.

Selama mengikuti perkuliahan, sang kiai sama sekali tidak menemukan kesulitan dalam mengikuti setiap mata kuliah yang disajikan. Hampir semua materi perkuliahan telah dikuasainya sejak dia masih nyantri di sejumlah pesantren. Bahkan dia kerap menemukan pandangan-pandangan dosen yang tidak sesuai dengan pengetahuan yang diperolehnya dari sejumlah referensi kitab-kitab kuning yang pernah dikajinya di pesantren. Tapi, seperti dipesankan sahabatnya, sang kiai tetap khidmat mengikuti perkuliahan tanpa menyampaikan keberatannya.

Dari sejumlah dosen yang mengampu mata kuliah agama Islam, memang ditemukan dosen yang pandangan-pandangannya secara umum sama dengan pengetahuan sang kiai. Tidak ditemukan perbedaan prinsip. Bahkan sesekali ia sempat bertukar pikiran baik di dalam kelas maupun di luar kelas setelah kegiatan belajar-mengajar berakhir. Sang kiai seolah menemukan kawan pemikiran yang seirama. Dan belakang diketahui, dosen itu memang lulusan pesantren salafiyah. Sebelum melanjutkan kuliah dan menjadi dosen, dia sempat lama nyantri di beberapa pesantren.

Sosok dosen inilah yang juga kemudian berhasil memupus rasa was-was sang kiai dari berbagai kekhawatirannya akan melenyapkan ilmu-ilmu keislaman yang selama ini telah dia kuasai. Tapi dari sosok dosen ini pula sang kiai mulai tergoda untuk membuat kesimpulan bahwa kuliah pada jurusan agama Islam itu tidak terlalu signifikan jika sebelumnya pernah mesantren. Bahkan pesantren telah berhasil membekali ilmu-ilmu keislaman jauh lebih banyak dibanding universitas dengan kurikulumnya yang sangat terbatas. Di pesantren sang kiai sudah belajar bagaimana cara menentukan sistem penanggalan yang biasa digunakan dalam kalender, khususnya kalender hijriyah, melalui kajian ilmu falak. Tapi tidak di tempat kuliahnya.

Rasa percaya diri sebagai komunits pesantren justru terbangun setelah dia mengetahui dari dalam dunia universitas. Beruntung tidak sampai pada sikap underestimate pada dunia perguruan tinggi, sebab masih ada sisi-sisi positif yang diperolehnya dari dunia pendidikan tinggi formal itu. Kiai itu tetap hormat dan tawadlu sesuai spirit akhlaqul karimah yang tertanam sejak menuntut ilmu di pesantren.

Tidak sebatas itu, sahabatnya kemudian memberinya buku yang menggambarkan sosok santri yang telah menambah pengalaman pendidikannya dan menjadi sarjana. Kiai itu membaca habis bukuRanting-ranting dari Tepi Pesantren yang baru diterimanya. Dari biodata yang tertulis singkat di cover belakangnya, diketahui kalau penulisnya adalah seorang santri yang sempat melanjutkan pendidikan tingginya hingga ke negeri Paman Sam.

Buku itu seolah tengah mengajak kiai untuk berpikir tentang agama secara lebih terbuka. Meski hanya sebuah catatan pengalaman keagamaan, buku ini berhasil menyadarkan keterbukaan sikap sang kiai. Kini dia berpikir bahwa meskipun dunia pesantren tetap sebagai lembaga pendidikan terbaik bagi dirinya, tapi masih banyak lembaga pendidikan di luar pesantren yang juga sangat baik untuk menjadikan seseorang dapat berpikir jernih, obyektif, dan metodologis. Pada saat yang sama, kiai pun mulai terbuka untuk mengakui bahwa dunia pesantren, seperti halnya dunia pendidikan pada umumnya, juga tidak luput dari kelemahan-kelemahan dan kelebihan-kelebihan.

Sikap keberagamaan kiai kini tampak semakin terbuka. Cara-cara berpikir tekstualnya mulai diimbangi dimensi kontekstual. Agama tidak lagi hanya dilihat secara doktrinal, tapi juga dipandang secara terbuka dari beragam perspektif. Dia mulai menggunakan pendekatan berpikir yang bukan hanya merujuk pada referensi kitab-kitab kuning, tapi juga buku-buku “putih” yang ditulis para sarjana sosial yang melihat agama dari perspektif yang berbeda-beda.

Lebih dari itu, setelah membaca buku tadi, sang kiai pun mulai mengakrabi Tuhan melalui cara-cara komunikasi yang lebih cair dan sederhana. Dia tidak lagi malu-malu untuk meminta (berdo’a) dalam gaya yang lebih humanis layaknya seorang manusia. Dia tertarik dengan kalimat-kalimat yang tertuang dalam buku yang tengah dibacanya. Ketika mengeluhkan posisi teologisnya di tengah suasana malam seribu bulan, penulis buku itu mengungkap perasaannya dalam kalimat-kalimat: “Tuhan, berharap pahala adalah hal yang manusiawi dan dibenarkan etika bertauhid. Seperti itukah, Tuhan, orang-orang yang tulus beragama? Maafkan aku Tuhan, jika agama hanya kupahami sebatas lahan pahala.”

Awalnya sang kiai terkejut dengan bahasa yang begitu cair dalam memohon sesuatu kepada Tuhan. Seperti tanpa etika. Tapi setelah lebih jauh dipikirkan, memang tidak salah cara-cara itu dilakukan untuk lebih mengakrabkan diri dengan Tuhan.

“Inilah, mungkin, di antara sisi lemah pesantren”, pikirnya pendek di tengah kelelahan menghadapi pergulatan pemikiran berbalut rasa was-was yang kian mendera sang kiai. Transformasi intelektual itu akhirnya berujung bahagia. Sang kiai pun akhirnya menyimpulkan, kalau saja tidak memiliki landasan pengetahuan pesantren, pergulatan pemikiran itu niscaya tidak akan berujung rahmat, malah mungkin laknat.

Di sela-sela riuhnya upacara wisuda sarjana, sang kiai berucap syukur dan bergumam pelan, “Alhamdulillah, aku bisa juga jadi sarjana. Tapi keberhasilan ini tidak bisa luput dari peran pesantren yang telah membekaliku beragam ilmu dan pengalaman keagamaan. Pesantren, bagiku, tetap sebuah universitas yang sesungguhnya.”[]

*Prof. Asep Saeful Muhtadi, Guru Besar Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dewan Redaksi Tabloid Alhikmah.