Ratusan Warga dan Sultan Palembang Berikirar ‘Perang’ dengan Miras

Ratusan Warga dan Sultan Palembang Berikirar ‘Perang’ dengan Miras

0 95

ALHIKMAH.CO,– Walau Provinsi Sumatera Selatan sudah punya Perda No. 10 Tahun 2011 tentang Pengawasan, Penertiban dan Pengendalian Peredaran Minuman Beralkohol, tetapi di Ibu Kota Provinsi ini, Palembang, masih ditemukan peredaran dan konsumsi miras yang melanggar aturan. Kondisi ini membuat warga Palembang resah dan berinisitif mendeklarasikan Gerakan Anti Miras di Kota Palembang. Deklarasi yang berpusat  di Bundaran Air Mancur Kota Palembang, Minggu (08/03) ini dipadati ratusan warga dan dihadiri Sultan Palembang Darussalam Iskandar Mahmud Badaruddin serta Polresta Palembang.

Fahira mengungkapkan, dirinya banyak mendapat laporan dari pejuang (aktivis) GeNAM di Kota Palembang mengenai maraknya peredaran dan konsumsi miras yang melanggar perda.

“Perda Miras yang diterbitkan Gubernur Sumatera Selatan pada 2011 itu artinya berlaku di semua kabupaten/kota, termasuk di Palembang, tetapi saya banyak dapat laporan dari aktivis GeNAM di Palembang kalau miras sangat mudah ditemukan bahkan dikonsumsi di tempat umum. Selain masih ada minimarket yang jual miras, banyak lapo-lapo yang menjual miras jenis tuak padahal lokasinya di permukiman yang jelas melanggar perda,” ungkap Fahira.

Bahkan Fahira pernah mendapat laporan kalau tempat-tempat umum di Kota Palembang seperti seperti Taman Kambang Iwak dan Benteng Kuto Besak dijadikan lokasi nongkrong sambil menenggak miras.

“Persoalan kita memang di law enforcement. Jika saya cermati, sanksi di perda ini cukup tegas, di mana setiap orang yang melanggar diancam penjara enam bulan atau denda Rp50 juta, tetapi masih ada saja yang berani melanggar. Artinya perda ini belum diimplementasikan maksimal sehingga tidak ada efek jera,” tegas Ketua Yayasan Anak Bangsa Berdaya dan Mandiri ini.

Kehadiran GeNAM di Kota Palembang, lanjut Fahira, ditujukan sebagai wadah untuk menggerakkan warga Palembang untuk bergerak bersama ‘berperang’ melawan miras lewat edukasi bahaya miras dan mendesak para pengambil keputusan di Kota Palembang untuk menegakkan perda miras.

Tidak hanya dari warga Palembang, dukungan nyata juga datang dari Sultan Palembang Darussalam Iskandar Mahmud Badaruddin yang juga Ketua Umum Yayasan Raja Sultan Nusantara. Dukungan ditandai penandatangan nota kesepahaman antara  Ketua Umum Yayasan Raja Sultan Nusantara dengan Ketum GeNAM Fahira Idris untuk bergerak bersama menyelamatkan generasi muda Palembang dari bahaya miras.

Dalam Nota kesepahaman ini juga disepakati bahwa para raja dan sultan se-Nusantara akan mendesak para pengambil kebijakan di seluruh Indonesia termasuk aparat penegak hukum untuk menerbitkan regulasi miras dan berkomitmen menindak segala pelanggaran terkait peredaran dan konsumsi miras. Pada kesempatan ini, Sultan juga bersedia menjadi pembina GeNAM Kota Palembang.

Kota Palembang adalah kota pertama di Sumatera dan menjadi kota ke delapan yang mendeklarasikan Gerakan Anti Miras. Sebelumnya GeNAM telah berdiri di Kota Bandung, Jakarta, Malang, Yogyakarta, Bekasi, Tangerang Selatan, dan Depok. (pnurullah/alhikmah/rilis)